, Jakarta - Anggota tim komunikasi presidensial untuk Prabowo Subianto baru-baru ini mengalami hal serupa sebagai korban love scamming Atau penipuan cinta. Kejadian itu semakin memperpanjang daftar kasus kriminal cyber yang terdiri dari berbagai jenis penipuan daring yang menargetkan beragam kelompok masyarakat.
Love scamming adalah jenis penipuan online yang mengatasnamakan pencarian pasangan, di mana penipu ini menggunakan identitas buatan untuk menyerang korbannya tanpa memedulikan umur atau asal-usulnya.
Dikutip dari laman FBI Dalam praktik love scamming, penjahat menggunakan identitas online yang palsu untuk meraih cinta dan kepercayaan korbannya. Setelah itu, mereka membentuk ilusi tentang sebuah hubungan romantis atau sangat dekat agar bisa mengecoh dan/atau menyemplos harta si korban.
Alasan Orang Terkena Penipuan Cinta
1. Kerentanan Psikologis
Psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, menyebut bahwa penipuan cinta daring umumnya beroperasi dengan mengeksploitasi kelemahan dalam aspek psikologi seseorang. Pada kasus seperti itu, para pelaku justru menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga korbannya merasa dihargai dan terhubung secara emosional.
Reza menggambarkan metode ini sebagai grooming, yaitu suatu taktik manipulasi yang sering kali dipakai dalam pelaksanaan beragam bentuk kejahatan terkait hubungan. "Berbeda dari ancaman yang menimbulkan rasa takut pada sasaran hingga mereka menjauh, grooming malah mendorong potensial korban untuk semakin dekat lantaran perasaan positif," papar Reza saat diwawancara. Tempo ketika dihubungi pada hari Sabtu, 21 Juni 2025.
Dari sudut pandang psikologi, kata Reza, para korban penipuan semacam ini sering kali mengungkapkan tingkat kemudahan diberi sugesti yang cukup tinggi, yaitu cenderung mudah terpengaruhi oleh hal-hal di sekitarnya. Menurut Reza, wanita termasuk dalam salah satu dari tiga kategori orang yang lebih berisiko secara statistika.
2. Merasa Kesepian
Studi berjudul Penipuan Cinta Online dan Pengalaman Wanita Indonesia: Sebuah Studi Kualitatif Yang terdapat dalam jurnal International Journal of Public Health Science edisi September 2023 mendukung klaim Reza. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa 60% dari para korban penipuan cinta di Indonesia merupakan wanita.
Sasaran utama hampir seluruhnya homogen, yaitu wanita berusia di atas 35 tahun, statusnya sebagai janda atau sudah bercerai, memiliki pendapatan pribadi, dan mencari pasangan melalui aplikasi maupun media sosial. Menurut penelitian dari Susanti Niman, Tina Shinta Parulian, serta Timothy Rothhaar, mereka dipandang rentan terhadap tipuan sebab merasa kesepian namun mandiri secara finansial.
3. Kebutuhan Emosional
Psikolog klinis, A. Kasandra Putranto, menyebut bahwa kasus penipuan cinta atau love scam dapat dialami oleh berbagai kalangan, mulai dari gadis muda, wanita sudah bersuami, janda, hingga kaum pria. Yang menjadi target utama bukanlah asal-usul sosial mereka, tetapi lebih kepada kekurangan dalam hal kebutuhan emosi yang belum terpenuhi. Pasalnya, seperti dijelaskan Kasandra, para pelaku ini biasanya akan memberikan banyak perhatian dan menjawab semua ekspektasi korban secara fisikal, reputasi, maupun sikap hidup.
Setelah itu, sang pelaku berusaha membina hubungan dengan cepat, menyenangkan korban, serta meraih kepercayaan mereka. Mereka bisa saja menyarankan perkawinan dan merencanakan pertemuan tatap muka, namun hal tersebut takkan terealisasi. Terakhir, para penipu ini akan minta uang kepada korban.
4. Kekerasan Hati Yang Terlalu Bertingkat
Meskipun demikian, menurut Reza, aspek seperti karakter pribadi, kebutuhan emosi yang tinggi, serta rasa percaya diri yang berlebih dapat memperluas area di mana saran atau pengaruh tersebut dapat diterima. Mengenai insiden yang diserahkan pada Polda Banten, ia menjelaskan bahwa posisi korban sebagai anggota tim pers Gedung Presiden malah bisa membawanya kepada keyakinan untuk mengendalikan potensi ancaman dengan lebih baik. "Mungkin saja gelarnya sebagai pegawai gedung presiden menyebabkannya menjadi terlampau yakin," ungkap Reza.
Reza mengatakan situasi tersebut dapat menyebabkan hindsight bias atau bias retrospektif, di mana orang percaya diri mereka pasti akan berhasil mendeteksi dan mencegah ancaman berkat rasa memiliki pengalaman atau pengetahuan yang cukup.
5. Hubungan Kasih yang Diinginkan
Menurut Kasandra, para penipu jenis ini tidak asal pilih korban. Mereka sengaja mengincar orang-orang yang memiliki rentansi emosi tinggi, misalnya mereka yang merasa kesepian, baru saja cerai, atau tengah menghadapi duka. Menurut pendapat Kasandra, pada situasi demikian, keinginan kuat untuk mendapatkan koneksi emosional dapat dieksploitasi oleh penipu tersebut untuk menciptakan hubungan palsu.
“ Korban Umumnya mempunyai keinginan untuk mencintai dan berharap bisa bersambungan dengan orang lain, oleh karena itu mereka dapat menjadi target mudah ketika bertemu seseorang yang kelihatannya menyediakan ikatan tersebut," jelas Kasandra.
Intan Setiawanty dan Haura Hamidah bersumbang dalam penyusunan artikel ini.
Comments
Post a Comment